Sabtu, 13 Juni 2009

Pidato Obama di Mesir

Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu Barack Obama di Jerman, Jumat ini.
Umi Kalsum, Shinta Eka Puspasari
Kanselir Jerman Angela Merkel (AP Photo)
VIVAnews - Presiden Amerika Serikat Barack Obama bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel di Dresden, Jerman, Jumat 5 Juni 2009. Dalam pertemuan ini, Merkel memuji pidato Obama di Kairo, sehari sebelumnya.

"Pidato itu merupakan landasan ideal untuk mengupayakan perdamaian," kata Merkel dalam konferensi pers seperti dikutip harian New York Times, edisi Jumat, 5 Juni 2009.

Pertemuan Obama dan Merkel menandai babak baru hubungan AS dan Jerman yang sempat memanas akibat komentar sejumlah pihak. Jerman tidak sependapat dengan sejumlah kebijakan AS seperti kebijakan ekonomi terkait penanggulangan krisis dan masa depan tahanan penjara di Teluk Guantanamo, Kuba.

Hubungan dua negara membeku setelah krisis ekonomi semakin buruk. Pemerintah Jerman dan AS memiliki pendapat berbeda mengenai pengucuran dana stimulus keuangan.

Merkel memandang AS menganggap remeh ancaman inflasi akibat pengucuran stimulus besar-besaran. Sementara pembuat kebijakan AS berpendapat Merkel tidak memahami tingkat krisis yang terjadi.

Selanjutnya, Obama dan Merkel akan mengunjungi kamp konsentrasi Nazi di Buchenwald, tempat salah satu kakek Obama, Charlie Payne membantu membebaskan tahanan pada Perang Dunia II. Obama juga akan mengunjungi Pangkalan Udara Ramstein dan menengok pasukan prajurit yang terluka di Pusat Medis Landstuhl.

PBNU Sambut Positif Pidato Obama di Mesir

Saturday, 6 June 2009 11:25

Jakarta (Ansor Online): Ketua PBNU Masykuri Abdillah menilai positif pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama yang ingin membina hubungan yang lebih baik dengan dunia Islam.

“Saya seperti pada umummya muslim, sangat positif menilai pidato Obama. Ini awal pemenuhan janji Obama ketika kampanye yang ingin memulai kembali atau membuka lembaran baru hubungan antara AS dan dunia Islam,” katanya kepada NU Online, Jum’at (5/6).


Langkah Obama ini merupakan lengkah memperbaiki kesalahfahaman antara Islam dan AS yang meningkat setelah terjadinya serangan WTC 11 September 2002, yang mana orang Amerika melihat Islam sebagai ancaman dan agama pendukung terror.

Sementara di dunia Islam, banyak muslim memiliki persepsi negatif terhadap AS yang dianggap sebagai negara ekspansionis, penindas, apalagi dengan munculnya keadaan sekarang ini, dimana AS sebagai satu-satunya super power di dunia sehingga tidak ada yang mengimbangi kebijakan global AS.

Perlu Pembuktian

Yang paling penting saat ini, menurut Guru Besar UIN Syafi Hidayatullah ini adalah langkah kongrit kebijakan AS, “Obama sudah menyadari, kenyataan yang ada tidak bisa dirubah dalam pidato,” tandasnya.

Persoalan yang paling mendasar yang perlu diselesaikan dalam hubungan dengan dunia muslim adalah penyelesaian masalah Palestina dan Israel, yang ini dianggap bisa mempengaruhi hubungan dengan yang lainnya disamping persoalan lain di Afganistan dan Irak.

“Obama juga harus menunjukkan, Israel harus mengakui rakyat Palestina memiliki hak untuk membuat dan memiliki negara sendiri,” terangnya.

Upaya ini tampaknya tak akan berlangsung dengan mudah bagi Obama mengingat kuatnya lobi Yahudi di Amerika Serikat.

“Tapi saya fikir, kalau obama mau, sebenarnya bisa, karena dunia juga sudah berubah. Penduduk AS juga sudah mulai sadar bahwa menganakemaskan Israel terus menerus tanpa kritis juga hal yang tidak disukai, oleh karena itu, kalau obama sungguh-sungguh, banyak didukung rakyat AS. Mereka juga sudah bosan dengan ketegangan yang ada yang dimunculkan oleh pemerintahan Bush,” tandasnya.

Tantangan lain yang harus dihadapi Obama datang dari dunia Islam, yaitu kelompok garis keras yang menganggap pernyataan Presiden pertama dari kulit hitam Obama ini hanya hanya sebagai retorika saja.

Dialog dengan Iran menurut Masykuri harus diutamakan bagi Obama, apalagi ia sudah menyatakan Iran memiliki hak untuk terhadap energi nuklir untuk perdamaian, bukan untuk peperangan.

“Ini belum pernah diucapkan presiden AS pada masa lalu. Iran seharusnya juga tidak apriori menentang Obama,” imbuhnya.

Dialog dengan Iran sendiri akan tergantung hasil pemilu yang akan berlangsung di Iran yang mencerminkan persaingan antara kubu konservatif dan kubu reformis. “Jika kubu reformis menang, akan semakin dekat babak baru Amerika dan Iran, tapi kalau yang menang kubu konservatif, perlu beberapa waktu lagi, setelah Obama menunjukkan keberhasilan menekan Israel mundur dari daerah yang diduduki,” ujarnya.

Terkait dengan Al Qaidah, tak hanya Barat, dikalangan umat Islam sendiri banyak yang tidak sepakat dengan cara-cara yang digunakan.

Tidak ada komentar: